Posted by: phb7 | October 10, 2009

Inovasi Baru: Anjungan Lepas Pantai Berbadan Silindris (2)

Inovasi Baru: Anjungan Lepas Pantai Berbadan Silindris (2)

Pada Bagian 1 telah diuraikan dua karakteristik utama dari struktur jenis SSP, yaitu karakteristik struktural dan karakteristik geraknya pada saat beroperasi. Selain itu beberapa indikasi performa SSP telah terlihat dari perbandingan dengan dua jenis struktur lainnya, Drill Ship dan Semisubmersible. Bagian kedua ini akan mengulas beberapa karakteristik lain dari SSP dan sedikit lebih dalam tentang dua jenis SSP yang sekarang dikembangkan yaitu jenis SSP FPSO dan SSP Pengeboran.


Pada dasarnya konsep SSP memiliki aplikasi yang luas, mulai dari unit besar untuk laut-dalam hingga ukuran yang lebih kecil untuk produksi ladang kecil di perairan dangkal. Selain peruntukan utamanya sebagai FPSO dan unit pengeboran, sebenarnya konsep SSP menawarkan suatu solusi yang fleksibel untuk bermacam-macam keperluan. Disamping bisa digunakan sebagai FPSO fungsi-penuh untuk perairan sangat-dalam, SSP bisa juga diaplikasikan misalnya, sebagai suatu unit penyimpanan di perairan dangkal dengan riser dalam jumlah yang besar yang dikombinasikan dengan anjungan produksi terpancang.

Prinsip dasar disain SSP adalah berdasarkan pada prinsip pembangunan kapal standart dengan meniadakan bagian depan dan buritannya. Sementara itu bagian kompartemen muatan dipertahankan dan dimodifikasi hingga menjadi bentuk lambung bundar (Gambar 1). Sehingga terbentuklah disain yang kompak dengan integrasi yang sederhana antara lambung dan bangunan atasnya. Untuk aplikasi FPSO, komponen turret dan swivel yang umum dipakai pada FPSO berbadan kapal, digantikan dengan sistim tambat sebar. Proses fabrikasi panel-panel dan blok-blok strukturnya dapat dilakukan secara standart dengan elemen-elemen struktur yang relatif berukuran kecil. Dengan cirinya yang mudah dalam pembangunannya itu menyebabkan SSP dapat dibangun di banyak galangan umum dengan fasilitas standart.

1


Gambar 1. Disain SSP terinspirasi oleh bagian tengah sebagai
kompartemen muatan dari struktur kapal konvensional
(sumber: Pareto’s Oil & Offshore Conference, 2006)

Bentuk lambung yang memiliki tingkat simetri yang sangat tinggi (karena berbentuk silindris) dalam konsep struktur SSP sangat mendukung pembentukannya dengan cara modul. Lambung ini disusun dari delapan jenis konstruksi modul sehingga proses pembangunannya sangat menguntungkan. Dimana faktor efisiensi dalam pembangunan dengan sistim modul didapati akan makin bertambah seiring dengan kemajuan tahap pekerjaan tersebut. Dengan adanya fakta ini, ditambah lagi dengan tidak diperlukannya perpipaan dan pengkabelan dalam tangki, maka makin menyederhanakan proses detil disain, sehingga pada akhirnya akan menurunkan biaya konstruktsi secara keseluruhannya.

Saat ini Sevan Marine memfokuskan pada dua jenis aplikasi SSP, yaitu sebagai anjungan apung produksi dan anjungan pengeboran. Unit SSP pertama, SSP Piranema dibangun di galangan Yantai Raffles di China. Pada kuartal kedua tahun 2006 telah dikirim ke galangan Keppel Verolme di Rotterdam, Belanda dan saat ini sedang dilakukan perangkaian peralaran dan fasilitas prosesing di atasnya. SSP Piranema ini direncanakan akan diinstal di ladang Piranema Brazilia pada akhir 2006 untuk masa kontrak selama 11 tahun dengan Petrobras.

Dua SSP lainnya, saat ini juga sedang dibangun di galangan Yantai Raffles. SSP kedua nantinya akan diinstal di ladang minyak Chestnut wilayah tengah Laut Utara pada pertengahan 2007 dibawah kontrak selama 2,5 tahun (dengan kemungkinan perpanjangan) dengan Venture Production. Sedang SSP ketiga dijadualkan akan dikeluarkan dari galangan pada kuartal kedua tahun 2007. Sementara itu, untuk SSP keempat yaitu SSP 300 FPSO, bagian lambungnya juga akan dibangun di China di galangan Hantong. Pengiriman SSP 300 dari galangan diperkirakan akan dilakukan pada paruh kedua 2008.

SSP unit FPSO

Sejauh ini telah dikembangkan dua jenis SSP yaitu sebagai SSP FPSO (Floating Produksion, Storage and Offloading) dan sebagai SSP Unit Pengeboran. SSP FPSO digunakan sebagai sebuah unit terapung untuk produksi dan penyimpanan hidrokarbon. Hidrokarbon hasil eksploitasi disimpan dalam tangki-tangkai yang ada di atas lambung anjungan dan selanjutnya ditransportasikan ke daratan dengan kapal tanker atau melalui sistim pipa laut.

2


Gambar 2. Salah satu jenis SSP yang diperuntukkan sebagai FPSO.
Proses offloading hidrokarbon dilakukan dengan suttle tanker yang dihubungkan dengan SSP (sumber: http://www.sevanmarine.com)

Dalam lambung ajungan FPSO antara lain dilengkapi dengan sistim permesinan, generator listrik, transformator, modul-modul elektrik, sistim pengontrol kebakaran, pompa balas dan pompa muatan. Modul pembangkit listrik menyalurkan tenaga listrik ke sistim permesinan tambahan di anjungan. Sedangkan komponen utama yang terdapat di atas geladak (deck) adalah unit tempat tinggal kru yang dilengkapi dengan ruang kontrol, bengkel kerja, vesel-vesel keselamatan, landasan helikopter, derek-derek, sistim bongkar-muat minyak dan sistim katrol jangkar.

SSP FPSO juga memiliki unit pemroses hidrokarbon yang dipasang di atas geladak. Modul dan spesifikasi dari unit pemroses ini bisa bervariasi yang tergantung pada karakteristik hidrokarbon yang akan diolah, sehingga memungkinkan terdapat modul pemroses minyak, gas dan/atau air. Modul pemroses minyaknya memiliki kapasitas produksi berkisar 10.000 – 200.000 bbls.

Dalam sistim FPSO ini, minyak diangkat dari kepala sumur (wellhead) yang berada di atas reservoir, ke atas anjungan melalui satu atau lebih pipa penyalur (riser). Gas dan air yang terkandung di dalamnya dipisahkan dari minyaknya. Gas yang dihasilkan dapat diproses dalam beberapa cara. Di antaranya bisa di bakar, diinjeksikan kembali ke dalam sumur atau digunakan pada operasi pemrosesan. Air yang akan diinjeksikan kembali ke dalam reservoir atau yang akan dibuang ke laut harus sudah melalui proses pengolahan hingga memenuhi syarat keselamatan lingkungan.

Tabel 1. Beberapa ukuran SSP yang sudah dikembangkan saat ini
(sumber: Pareto’s Oil & Offshore Conference, 2006)

3

Hingga September 2006, telah dikembangkan enam macam disain SSP FPSO berdasarkan kapasitas penyimpanannya (lihat Tabel 1). Dari kapasitas 300.000 bbl untuk SSP 300 FPSO dengan diameter lambung 60 m, hingga kapasitas 2 juta bbl untuk SSP 2000 FPSO. Kapasitas terbesar ini dicapai dengan diameter lambung 106 meter.

Operasi bongkar muatan minyak ke kapal tanker dilakukan melalui dua stasion pada SSP yang masing-masing berjarak 180o antara satu dengan lainnya dan jauh dari unit akomodasi. Stasion ini didisain sebagai tipe gulung (reel type station) yang memiliki alat penggulung selang minyak kecil di sampingnya. Pengujian telah dilakukan di Marintek dengan sebuah model tanker konvensional tanpa dynamic positioning (DP). Dynamic positioning (DP) merupakan suatu sistim penjaga posisi yang digunakan pada unit struktur apung dengan piranti utama berupa alat pendorong (thrusters) yang dioperasikan secara dinamis terkontrol untuk mengimbangi gaya angin, gelombang dan arus. Tujuannya adalah untuk menjaga unit apung agar tetap berada pada posisi yang telah ditentukan.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa gerak yaw tanker relatif kecil karena gerakan SSP dalam arah surge dan sway-nya jauh lebih kecil dibandingkan dengan bangunan apung berbadan-kapal. Kondisi ini akan memperkecil peluang interaksi antara dua buah wahana apung (SSP dan tanker) pada saat berlangsung operasi pemindahan muatan (offloading), sehingga meningkatkan keamanan operasionalnya.

SSP Unit Pengeboran

SSP yang diaplikasikan untuk operasi pengeboran didisain untuk mampu beroperasi di lingkungan yang ganas/ekstrem, misalnya untuk wilayah Laut Utara dengan gelombang operasional besar atau pada saat terjadi gelombang badai.

Pembangunan bagian lambung untuk unit pengeboran pertamanya dilakukan pada musim panas 2006 di galangan Hantong, China. Peralatan unit pembor direncanakan selesai diinstal dan siap untuk operasi pengeboran pada paruh pertama tahun 2009. Demikian juga untuk lambung anjungan SSP produksi keempat, sudah dibuat kontrak pembangunan di tempat yang sama. Kontrak dengan Hantong dijadualkan berlaku hingga akhir 2012, sehingga memungkinkan untuk pembangunan sembilan unit SSP berikutnya, meliputi unit pengeboran maupun unit FPSO.

4


Gambar 3. Salah satu jenis SSP yang diperuntukkan sebagai unit pengeboran
di lingkungan operasi yang ganas (sumber: http://www.sevanmarine.com).

Kapasitas SSP unit Pengeboran:

Dengan kapasitas beban geladak yang besar, SSP unit pengeboran mampu menyimpan hingga 12.500 ft riser, kata manager proyek SSP unit Pengeboran, Bjorn Egil Gustavsen. Selain itu SSP dirancang memiliki kapasitas penampung lumpur dan penyimpan bentonite dan barite dalam volume besar, kapasitas derek pengangkat yg tinggi serta memiliki sistim kompensator gerak. Untuk memberikan station-keeping yang efisien dipakai sistim DP-3 (DP-3 adalah sistim dynamic positioning kelas 3 yang merupakan kelas tertinggi, yang telah teruji kemampuannya untuk lingkungan perairan ganas, misalkan pada pengujian di daerah ekstrim Timur Canada).

Unit SSP ini memiliki kapasitas penyimpanan untuk minyak dan material habis-pakai yang besar dibandingkan dengan drillship atau semisubmersible sehingga mampu meminimalkan aktivitas pemasokan dan fasilitas operasi jarak jauh. Jika diperlukan, SSP ini mampu untuk menampung minyak dalam lambungnya hingga 200.000 bbl.

Kombinasi antara kemampuan gerak yang baik dan kapasitas beban geladak serta kapasitas penyimpanan yang besar, menjadikan SSP sangat cocok untuk operasi pengeboran di perairan yang ganas. Unit driling SSP ini memiliki cadangan stabilitas yang tinggi, artinya peralatan yang lebih berat dapat ditempatkan di posisi yang lebih tinggi dibandingkan pada semisubmersible. Untuk kondisi Laut Utara unit ini mampu beroperasi pada tinggi gelombang signifikan hingga 8m (ekivalen dengan puncak gelombang hingga 14,8m).

Ramah lingkungan dengan operasi aman:

Menurut Sevan Marine, disain SSP juga ramah lingkungan dan aman dalam operasionalnya. Hal ini karena telah memenuhi peraturan untuk seluruh wilayah operasi dengan lingkungan sensitif. Sistim pembuangannya adalah jenis tertutup dengan buangan nol dengan dilengkapi sistim manajemen limbah dan menggunakan mesin rendah emisi. Untuk menjamin keamanan operasi dipakai cadangan stabilitas tinggi dan konstruksi lambung dan pondasi ganda. Kapasitas penyimpanan internalnya memungkinkan SSP melakukaan pengujian lanjut terhadap sumur yang diperlukan untuk wilayah operasi dengan lingkungan sensitif seperti di Laut Barents.

Dalam disain digunakan derek dua geladak guna menjamin keamanan operasi pengangkatan, dimana penangangan pipa-pipa dilakukan secara otomatis. Tingkat otomatisasi operasi pengboran juga ditingkatkan hingga pada level tinggi. Terdapat juga sebuah derek tunggal untuk aktivitas-aktivitas offline. Misalnya penanganan drillpipe atau casing dapat dilakukan secara terpisah, sementara operasi pengeboran sedang berlangsung. Derek ini juga dapat memindahkan riser hinggga 11 m menjauh dari pusat pengeboran, sehingga Christmas tree dapat diinstal tanpa mencabut riser. Dengan demikian makin mempersingkat waktu operasi pengeboran.

Bahkan untuk mengantisipasi operasi pengeboran di daerah kutub, disain SSP telah disiapkan untuk musim dingin dan seluruh peralatan yang sensitif dilindungi secara khusus. Konstruksi bajanya dirancang tahan terhadap temperatur hingga -200C, termasuk di Laut Barents.

Penutup

Bahwasanya saat ini Brazil sedang berpacu dengan program swasembada migasnya yang ditargetkan akan tercapai pada tahun 2010. Pada tahun itu diproyeksikan produksi minyaknya mencapai 2,3 MMb/d. Dalam rangka merealisasikan proyek tersebut, Petrobras menggagas 13 proyek utama. Di luar itu, saat ini delapan unit produksi sedang dalam pembangunan. SSP FPSO Piranema adalah menjadi salah satunya. Tujuh anjungan lainnya adalah P-34 (Jubarte), FPSO Cidade de Vitoria (Golfinho module 2), P-52 (Rancodor), P-53 (Marlim Leste), P-51 (Marlim Sul), FPSO Rio de Janeiro (Espadarte) dan P-54 (Rancodor).

Sementara di tahun 2006 ini, unit yang akan segera diinstal dan dioperasikan adalah P-45 di ladang Jubarte (Campos Basin) dengan kapasitas produksi 60 ribu bl/d, SSP-300 di ladang Piranema (di Sergipe) dengan produksi 20 ribu bl/d dan unit Golfinho Fase 1 dengan produksi harian 100 ribu barel yang akan diinstal di ladang Golfinho (Espirito Santo Basin).

Dengan demikian, ladang Piranema Brazil nantinya akan menjadi saksi pembuktian performansi konsep disain SSP, terutama untuk SSP-300 FPSO sebagai produk perdananya, seperti yang telah diklaim oleh pihak disainernya sebagaimana diuraikan di atas. Sekaligus hal ini juga sebagai penantian kita semua atas tekat-kuat Brazil dengan cita-cita besar industri migasnya. Mampukah keduanya terwujud? Yah, kita lihat saja, sembari menanti upaya-upaya besar dan mulia dari PERTAMINA untuk industri migas Indonesia kita tercinta. [@rwp].

Bahan bacaan

1. “The SSP: A New Class of Hull for the Oil Industry”, Kare Syvertsen, MSc / Sevan Marine AS, Clovis Lopes, Ph.D. / Sevan Marine do Brasil
2. Sevan Marine Comp., http://www.sevanmarine.com/index.php
3. Nick Terdre, “Cylindrical drilling platform tailored for deepwater and ultra-harsh environments”, Offshore Magazine, August 2006, http://www.offshore-mag.com.
4. Sevan Marine ASA, “Pareto’s Oil & Offshore Conference”, Presentation material, Oslo, September 6, 2006
5. Wertheim, P.H and Abrantes, D., “2010 target looms: Drive for self-sufficiency pushes action offshore Brazil”, Offshore Magazine, July 2006, http://www.offshore-mag.com.

Di-copy dari artikel Rudi Walujo Prastianto


Rudi Walujo Prastianto, Staf pengajar Jurusan Teknik Kelautan ITS Surabaya, mahasiswa program doktor Graduate School of Engineering, Department of Marine System Engineering, Osaka Prefecture University – JAPAN, Student member dari Japan Society of Naval Architects and Ocean Engineers (JASNAOE). email: rudiwp@oe.its.ac.id atau rudiwp@marine.osakafu-u.ac.jp

Blogged with the Flock Browser


Responses

  1. Pak Harry,
    Menarik sekali apa yang disajikan disini. Dengan SSP ini maka kapasitas produksinya relatif besar dibandingkan dengan struktur sejenisnya.
    Yang menjadi pertanyaan saya adalah apakah dengan platform seperti ini juga potensial untuk dipakai di perairan dalam Indonesia seperti West Seno.
    Salam dari Dapur Engineering

  2. Kalo untuk perairan indonesia sangat bisa diterapkan, kita lihat saja untuk floating structure tsb sebenarnya didesign untuk perairan yang liar.
    tinggal pemerintahnya saja mau ga untuk menerapkan deepwater development dengan floating structure tsb sebagai method-nya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: